Minggu, 08 Juni 2014

ANALISIS WACANA KRITIS


Mata Kuliah  : Wacana Bahasa Indonesia
Dosen              : Noor Cahaya, S. Pd., M. Pd.

Kelompok 6
1.      Abdul Hamid                         NIM A1B110201
2.      M. Fathurahman                   NIM A1B110254
3.      Mia Aldina Maulana             NIM A1B110225
4.      Noprika Selviana                   NIM A1B110043
5.      Maya Puspitasari                  NIM A1B111203
6.      Ragita Rahmaniyah              NIM A1B111212
7.      Dedy Herwin Rendy             NIM A1B110037

Analisis Wacana Kritis

Pada hakikatnya, bahasa merupakan produk budaya. Sebagai produk budaya, bahasa memiliki beragam fungsi. Thompson (dalam Jumadi 2010: 1) melihat bahwa bahasa bukan sekedar alat komunikasi atau pengetahuan, tetapi juga sebagai alat kekuasaan. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa dalam proses komunikasi, seseorang berusaha untuk tidak hanya dipahami, tetapi juga untuk dipecayai, dipatuhi, dihormati, dan dibedakan. Intinya dalam kehidupan sehari-hari, bahasa kita gunakan sebagai alat untuk berkomunikasi.
Dalam memakai bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, kita memakai bahasa dalam wujud kalimat yang saling berkaitan. Kalimat yang pertama menyebabkan timbulnya kalimat kedua, kalimat kedua menjadi acuan kalimat ketiga, kalimat ketiga mengacu kembali ke kalimat pertama, dan seterusnya. Rentetan kalimat yang berkaitan dan menguhubungkan proposi yang satu dengan proposi yang lain itu membentuk kesatuan yang dinamakan wacana (Alwi, dkk, 2003: 419).
Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam studi linguistik ini merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata, frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Analisis wacana, kebalikan dari linguistik formal, justru memusatkan perhatian pada level di atas kalimat seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.

A.    Analisis Wacana versus Analisis Wacana Kritis
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besar dari berbagai definisi, titik singgungnya adalah wacana analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Mohammad A. S. Hikam (dalam Eriyanto, 4) pada suatu tulisannya telah membahas perbedaan paradigma analisis wacana dalam melihat bahasa, yaitu.
1.      Pandangan Kaum Positivisme-Empiris
Menurut aliran ini, bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distorsi, sejauh ia dinyatakan dengan memakai pernyataan-pernyataan yang logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Salah satu ciri dari pemikiran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas.
2.      Pandangan Konstruktivisme
Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa  tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara.
3.      Pandangan Kritis
Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang berperan  dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu, analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa. Dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan  berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. Analisis wacana kategori ini disebut juga sebagai analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) karena memkai perspektif analisis.

B.     Karakteristik Analisis Wacana Kritis
Bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks di sini  berarti bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan. Berikut ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis. Bahan diambil dari tulisan Teun A. van Djik, Fairclough, dan Wodak (dalam Eriyanto, 8-14).
1.      Tindakan
Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action). Dengan pemahaman semacam ini mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Dengan pemahaman ini, ada beberapa konsekuensi bagaimana wacana harus dipandang, yaitu.
·         Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk  mempengaruhi, mendebat, membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya. Seseorang berbicara atau menulis mempunyai maksud tertentu, baik besar maupun kecil.
·         Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.
2.      Konteks
Analisis wacana kritis mempetimbangkan konteks wacana, seperti, latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana di sini dipandang, diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi ketika teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya. Ada beberapa konteks penting yang berpengaruh terhadap produksi wacana, yaitu.
·         Pertama, partisipan wacana, latar seseorang yang memproduksi wacana, seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnis, agama.
·         Kedua, setting sosial tertentu, seperti tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar atau lingkunagn fisik adalah konteks yang berguna untuk mengerti suatu wacana.
3.      Historis
Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah dengan menempatkan wacana itu dalam konteks historis tertentu. Pada saat melalukan analisis wacana perlu dilakukan tinjauan historis. Hal tersebut bertujuan untuk mengerti mengapa suatu wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang dipakai seperti itu, dan sebagainya.
4.      Kekuasaan
Analisis wacana kritis juga mempertimbangkan elemen kekuasaan (power) dalam analisisnya. Di sini, setiap wacana yang muncul dalam bentuk teks, percakapan, atau apa pun, tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dengan masyarakat. Seperti kekuasaan kulit putih terhadap kulit hitam dalam wacana rasisme, kekuaaan perusahaan berbentuk dominasi pengusaha kelas atas kepada bawahan, dan sebagainya.
Kekuasaan dalam hubungannya dengan wacana penting untuk melihat hal yang disebut kontrol. Satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain lewat wacana. Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam bentuk fisik dan langsung, tetapi juga kontrol secara mental atau psikis. Kelompok yang dominan mungkin membuat kelompok lain bertindak seperti yang diinginkan olehnya, berbicara, dan bertindak sesuai yang diinginkan.
5.      Ideologi
Ideologi juga konsep yang sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. Hal ini karena teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu. Wacana dalam pendekatan semacam ini dipandang sebagai medium kelompok mana yang dominan mempersuasi dan mengkomunikasikan kepada khalayak produksi kekuasaan dan dominasi yang mereka miliki, sehingga tampak absah dan benar. Ideologi memiliki beberapa implikasi penting, yaitu.
·         Pertama, ideologi secara inheren bersifat sosial, tidak personal atau individual, ia membutuhkan share di antara anggota kelompok, organisasi atau kolektivitas dengan orang lainnya.
·         Kedua, ideologi meskipun bersifat sosial, penggunaannya dilakukan secara internal di antara anggota kelompok atau komunitas. Oleh karena itu, ideologi tidak hanya menyediakan fungsi koordinatif dan kohesi, tetapi juga membentuk identitas diri kelompok, membedakan dengan kelompok lain.
Dengan pandangan semacam ini, wacana lalu tidak dipahami sebagai sesuatu yang netral dan berlangsung secara alamiah karena dalam setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh. Dalam teks berita misalnya, dapat dianalisis apakah teks yang muncul tersebut pencerminan dari ideologi seseorang, dan sebagainya.

C.    Pendekatan Utama dalam Analisis Wacana Kritis
1.      Analisis Bahasa Kritis (Critical Linguistics)
Critical Linguistics dibangun oleh sekelompok pengajar di Universitas East Anglia pada 1970-an. Critical Linguistics memusatkan analisis wacana pada bahasa dan menghubungkannya dengan ideologi. Inti dari gagasan Critical Linguistics adalah melihat cara gramatika bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Aspek ideologi itu diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai. Bahasa, baik kata maupun struktur gramatika dipahami sebagai pilihan, mana yang dipilih seseorang untuk diungkapkan membawa makna ideologi tertentu.
2.      Analisis Wacana Pendekatan Prancis (French Discourse Analysis)
Dalam pandangan Pecheux, bahasa dan ideologi bertemu pada pemakaian bahasa, dan materialisasi bahasa pada ideologi. Keduanya, kata yang digunakan dan makna dari kata-kata menunjukkan posisi seseorang dalam kelas tertentu. Bahasa adalah medan pertarungan melalui berbagai kelompok dan kelas sosial yang berusaha menanamkan keyakinan dan pemahamannya.  Pecheux memusatkan perhatian pada efek ideologi pada formasi diskursus yang memposisikan seseorang sebagi subjek dalam  situasi sosial tertentu.
3.      Pendekatan Kognisi Sosial (Socio Cognitive Approach)
Pendekatan ini dikembangkan oleh pengajar di Universitas Amsterdam, Belanda dengan tokoh utamanya Teun A. van Djik. Pendekatan van Djik ini disebut kognisi sosial karena van Djik  melihat faktor kognisi sebagai elemen penting dalam produksi wacana.  Wacana dilihat bukan hanya dari struktur wacana, tetapi juga menyertakan bagaimana wacana itu diproduksi. Proses produksi wacana itu menyertakan suatu proses yang  disebut sebagai kognisi sosial.
4.      Pendekatan Perubahan Sosial (Sociocultural Change Approach)
Analisis wacana dari Fairclough ini utamanya memusatkan perhatian pada bagaimana wacana dan perubahan sosial. Wacana di sisni dipandang sebagai praktik sosial karena dengan memandang wacana sebagai praktik sosial, ada hubungan dialektis antara praktik diskursif tersebut dengan identitas dan relasi sosial. Wacana juga melekat dalam situasi, institusi, dan kelas sosial tertentu.
5.      Pendekatan Wacana Sejarah (Discourse Historical Approaches)
Analisis wacana ini dikembangkan oleh sekelompok pengajar di Vienna dengan tokoh utama Ruth Wodak. Wacana di sini disebut historis karena menurut Wodak, dkk., analisis wacana harus menyertakan konteks sejarah wacana tentang suatu kelompok atau komunitas digambarkan. Misalnya, penggambaran yang buruk atau rasis tentang suatu kelompok, menurutnya terbangun lewat proses sejarah yang panjang. Penggambaran tersebut harus dibongkar dengan melakukan tinjauan sejarah karena prasangka atau penggambaran itu adalah peninggalan atau warisan lama yang panjang.

DAFTAR RUJUKAN

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ke 3). Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.

Eriyanto. 2011. Analisis Wacana: pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS Group.

Jumadi. 2010. Wacana: Kajian Kekuasaan Berdasarkan Ancangan Etnografi Komunikasi dan Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Prima.