Mata Kuliah : Wacana Bahasa Indonesia
Dosen : Noor Cahaya, S. Pd., M. Pd.
Kelompok
6
1.
Abdul
Hamid NIM
A1B110201
2.
M.
Fathurahman NIM
A1B110254
3.
Mia
Aldina Maulana NIM A1B110225
4.
Noprika
Selviana NIM A1B110043
5.
Maya
Puspitasari NIM A1B111203
6.
Ragita
Rahmaniyah NIM A1B111212
7.
Dedy
Herwin Rendy NIM A1B110037
Analisis Wacana Kritis
Pada hakikatnya, bahasa
merupakan produk budaya. Sebagai produk budaya, bahasa memiliki beragam fungsi.
Thompson (dalam Jumadi 2010: 1) melihat bahwa bahasa bukan sekedar alat
komunikasi atau pengetahuan, tetapi juga sebagai alat kekuasaan. Hal ini
didasarkan pada kenyataan bahwa dalam proses komunikasi, seseorang berusaha
untuk tidak hanya dipahami, tetapi juga untuk dipecayai, dipatuhi, dihormati,
dan dibedakan. Intinya dalam kehidupan sehari-hari, bahasa kita gunakan sebagai
alat untuk berkomunikasi.
Dalam memakai bahasa yang
digunakan untuk berkomunikasi, kita memakai bahasa dalam wujud kalimat yang saling
berkaitan. Kalimat yang pertama menyebabkan timbulnya kalimat kedua, kalimat
kedua menjadi acuan kalimat ketiga, kalimat ketiga mengacu kembali ke kalimat
pertama, dan seterusnya. Rentetan kalimat yang berkaitan dan menguhubungkan
proposi yang satu dengan proposi yang lain itu membentuk kesatuan yang
dinamakan wacana (Alwi, dkk, 2003: 419).
Dalam
pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar dari kalimat.
Analisis wacana dalam studi linguistik ini merupakan reaksi dari bentuk
linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata, frasa, atau kalimat
semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Analisis wacana,
kebalikan dari linguistik formal, justru memusatkan perhatian pada level di
atas kalimat seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih
besar dari kalimat.
A.
Analisis
Wacana versus Analisis Wacana Kritis
Istilah analisis
wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan
berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi yang besar dari berbagai definisi,
titik singgungnya adalah wacana analisis wacana berhubungan dengan studi
mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Mohammad A. S. Hikam (dalam Eriyanto, 4)
pada suatu tulisannya telah membahas perbedaan paradigma analisis wacana dalam
melihat bahasa, yaitu.
1. Pandangan Kaum Positivisme-Empiris
Menurut
aliran ini, bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar
dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung
diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distorsi, sejauh
ia dinyatakan dengan memakai pernyataan-pernyataan yang logis, sintaksis, dan
memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Salah satu ciri dari pemikiran ini
adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas.
2. Pandangan Konstruktivisme
Dalam
pandangan konstruktivisme, bahasa tidak
lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan
dari subjek sebagai penyampai pernyataan Setiap pernyataan pada dasarnya adalah
tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan
jati diri dari sang pembicara.
3. Pandangan Kritis
Analisis
wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi
pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa dalam pandangan kritis
dipahami sebagai representasi yang berperan
dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun
strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu, analisis wacana dipakai untuk
membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa. Dengan pandangan semacam
ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama
dalam pembentukan subjek, dan berbagai
tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. Analisis wacana kategori
ini disebut juga sebagai analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) karena memkai perspektif analisis.
B.
Karakteristik
Analisis Wacana Kritis
Bahasa
dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga
menghubungkan dengan konteks. Konteks di sini
berarti bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk
di dalamnya praktik kekuasaan. Berikut ini disajikan karakteristik penting dari
analisis wacana kritis. Bahan diambil dari tulisan Teun A. van Djik,
Fairclough, dan Wodak (dalam Eriyanto, 8-14).
1. Tindakan
Prinsip
pertama, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action). Dengan pemahaman semacam ini mengasosiasikan wacana sebagai
bentuk interaksi. Dengan pemahaman ini, ada beberapa konsekuensi bagaimana
wacana harus dipandang, yaitu.
·
Pertama, wacana dipandang sebagai
sesuatu yang bertujuan, apakah untuk
mempengaruhi, mendebat, membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya.
Seseorang berbicara atau menulis mempunyai maksud tertentu, baik besar maupun
kecil.
·
Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu
yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali
atau diekspresikan di luar kesadaran.
2. Konteks
Analisis
wacana kritis mempetimbangkan konteks wacana, seperti, latar, situasi,
peristiwa, dan kondisi. Wacana di sini dipandang, diproduksi, dimengerti, dan
dianalisis pada suatu konteks tertentu. Konteks memasukkan semua situasi dan
hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti
partisipan dalam bahasa, situasi ketika teks tersebut diproduksi, fungsi yang
dimaksudkan, dan sebagainya. Ada beberapa konteks penting yang berpengaruh terhadap
produksi wacana, yaitu.
·
Pertama, partisipan wacana, latar
seseorang yang memproduksi wacana, seperti jenis kelamin, umur, pendidikan,
kelas sosial, etnis, agama.
·
Kedua, setting sosial tertentu, seperti
tempat, waktu, posisi pembicara dan pendengar atau lingkunagn fisik adalah
konteks yang berguna untuk mengerti suatu wacana.
3. Historis
Salah
satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah dengan menempatkan wacana
itu dalam konteks historis tertentu. Pada saat melalukan analisis wacana perlu dilakukan
tinjauan historis. Hal tersebut bertujuan untuk mengerti mengapa suatu wacana
yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang dipakai
seperti itu, dan sebagainya.
4. Kekuasaan
Analisis
wacana kritis juga mempertimbangkan elemen kekuasaan (power) dalam analisisnya. Di sini, setiap wacana yang muncul dalam
bentuk teks, percakapan, atau apa pun, tidak dipandang sebagai sesuatu yang
alamiah, wajar, dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan.
Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dengan
masyarakat. Seperti kekuasaan kulit putih terhadap kulit hitam dalam wacana
rasisme, kekuaaan perusahaan berbentuk dominasi pengusaha kelas atas kepada
bawahan, dan sebagainya.
Kekuasaan
dalam hubungannya dengan wacana penting untuk melihat hal yang disebut kontrol.
Satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain lewat wacana.
Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam bentuk fisik dan langsung, tetapi
juga kontrol secara mental atau psikis. Kelompok yang dominan mungkin membuat
kelompok lain bertindak seperti yang diinginkan olehnya, berbicara, dan
bertindak sesuai yang diinginkan.
5. Ideologi
Ideologi
juga konsep yang sentral dalam analisis wacana yang bersifat kritis. Hal ini
karena teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau
pencerminan dari ideologi tertentu. Wacana dalam pendekatan semacam ini
dipandang sebagai medium kelompok mana yang dominan mempersuasi dan
mengkomunikasikan kepada khalayak produksi kekuasaan dan dominasi yang mereka
miliki, sehingga tampak absah dan benar. Ideologi memiliki beberapa implikasi
penting, yaitu.
·
Pertama, ideologi secara inheren
bersifat sosial, tidak personal atau individual, ia membutuhkan share di antara anggota kelompok, organisasi
atau kolektivitas dengan orang lainnya.
·
Kedua, ideologi meskipun bersifat
sosial, penggunaannya dilakukan secara internal di antara anggota kelompok atau
komunitas. Oleh karena itu, ideologi tidak hanya menyediakan fungsi koordinatif
dan kohesi, tetapi juga membentuk identitas diri kelompok, membedakan dengan
kelompok lain.
Dengan
pandangan semacam ini, wacana lalu tidak dipahami sebagai sesuatu yang netral
dan berlangsung secara alamiah karena dalam setiap wacana selalu terkandung
ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh. Dalam teks berita misalnya,
dapat dianalisis apakah teks yang muncul tersebut pencerminan dari ideologi
seseorang, dan sebagainya.
C.
Pendekatan
Utama dalam Analisis Wacana Kritis
1. Analisis Bahasa Kritis (Critical Linguistics)
Critical Linguistics dibangun
oleh sekelompok pengajar di Universitas East Anglia pada 1970-an. Critical Linguistics memusatkan analisis
wacana pada bahasa dan menghubungkannya dengan ideologi. Inti dari gagasan Critical Linguistics adalah melihat cara
gramatika bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Aspek ideologi itu
diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai.
Bahasa, baik kata maupun struktur gramatika dipahami sebagai pilihan, mana yang
dipilih seseorang untuk diungkapkan membawa makna ideologi tertentu.
2. Analisis Wacana Pendekatan Prancis
(French Discourse Analysis)
Dalam
pandangan Pecheux, bahasa dan ideologi bertemu pada pemakaian bahasa, dan
materialisasi bahasa pada ideologi. Keduanya, kata yang digunakan dan makna
dari kata-kata menunjukkan posisi seseorang dalam kelas tertentu. Bahasa adalah
medan pertarungan melalui berbagai kelompok dan kelas sosial yang berusaha
menanamkan keyakinan dan pemahamannya. Pecheux memusatkan perhatian pada efek
ideologi pada formasi diskursus yang memposisikan seseorang sebagi subjek
dalam situasi sosial tertentu.
3. Pendekatan Kognisi Sosial (Socio Cognitive Approach)
Pendekatan
ini dikembangkan oleh pengajar di Universitas Amsterdam, Belanda dengan tokoh
utamanya Teun A. van Djik. Pendekatan van Djik ini disebut kognisi sosial
karena van Djik melihat faktor kognisi
sebagai elemen penting dalam produksi wacana.
Wacana dilihat bukan hanya dari struktur wacana, tetapi juga menyertakan
bagaimana wacana itu diproduksi. Proses produksi wacana itu menyertakan suatu
proses yang disebut sebagai kognisi
sosial.
4. Pendekatan Perubahan Sosial (Sociocultural Change Approach)
Analisis
wacana dari Fairclough ini utamanya memusatkan perhatian pada bagaimana wacana
dan perubahan sosial. Wacana di sisni dipandang sebagai praktik sosial karena
dengan memandang wacana sebagai praktik sosial, ada hubungan dialektis antara
praktik diskursif tersebut dengan identitas dan relasi sosial. Wacana juga
melekat dalam situasi, institusi, dan kelas sosial tertentu.
5. Pendekatan Wacana Sejarah (Discourse Historical Approaches)
Analisis
wacana ini dikembangkan oleh sekelompok pengajar di Vienna dengan tokoh utama
Ruth Wodak. Wacana di sini disebut historis karena menurut Wodak, dkk.,
analisis wacana harus menyertakan konteks sejarah wacana tentang suatu kelompok
atau komunitas digambarkan. Misalnya, penggambaran yang buruk atau rasis
tentang suatu kelompok, menurutnya terbangun lewat proses sejarah yang panjang.
Penggambaran tersebut harus dibongkar dengan melakukan tinjauan sejarah karena
prasangka atau penggambaran itu adalah peninggalan atau warisan lama yang
panjang.
DAFTAR RUJUKAN
Alwi, Hasan,
dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia (edisi ke 3). Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.
Eriyanto. 2011. Analisis Wacana: pengantar Analisis Teks
Media. Yogyakarta: LKiS Group.
Jumadi. 2010. Wacana: Kajian Kekuasaan Berdasarkan
Ancangan Etnografi Komunikasi dan Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Prima.