Mata Kuliah :
Wacana Bahasa Indonesia
Dosen :
Noor Cahaya, S. Pd., M. Pd.
Kelompok 6
Abdul Hamid NIM
A1B110201
M. Fathurahman NIM
A1B110254
Mia Aldina Maulana NIM
A1B110225
Noprika Selviana NIM
A1B110043
Maya Puspitasari NIM
A1B111203
Ragita Rahmaniyah NIM
A1B111212
Dedy Herwin Rendy NIM
A1B110037
Analisis Wacana Kritis
Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang
lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam studi linguistik ini merupakan
reaksi dari bentuk linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata,
frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut.
Analisis wacana, kebalikan dari linguistik formal, justru memusatkan perhatian
pada level di atas kalimat seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level
yang lebih besar dari kalimat.
A. Analisis Wacana versus Analisis Wacana Kritis
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai
dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasi
yang besar dari berbagai definisi, titik singgungnya adalah wacana analisis
wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Mohammad
A. S. Hikam dalam suatu tulisannya telah membahas perbedaan paradigm analisis
wacana dalam melihat bahasa, yaitu.
1. Pandangan Kaum Positivisme-Empiris
Menurut aliran ini, bahasa dilihat sebagai jembatan antara
manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap
dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala
atau distorsi, sejauh ia dinyatakan dengan memkai pernyataan-pernyataan yang
logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Salah satu
ciri dari pemikiran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas.
2. Pandangan Konstruktivisme
Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk
memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan dari subjek subjek
sebagai penyampai pernyataan Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan
penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri
dari sang pembicara.
3. Pandangan Kritis
Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada
kenstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna.
Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema
wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu,
analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses
bahasa. Dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat
dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan bebrbagai tindakan representasi yang terdapat
dalam masyarakat. Analisis wacana kategori ini disebut juga sebagai analisis
wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) karena memkai perspektif
analisis.
B. Karakteristik Analisis Wacana Kritis
Bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari
aspek kebahasaan, tetapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks di
sini berarti bahasa itu dipakai untuk
tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan. Berikut
ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis. Bahan diambil
dari tulisan Teun A. van Djik, Fairclough, dan Wodak.
1. Tindakan
Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action).
Dengan pemahaman semacam ini mengasosiasikan wacan sebagai bentuk interaksi.
Dengan pemahaman ini, ada beberapa konsekuensi bagaimana wacana harus dipandang,
yaitu.
Pertama, wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan,
apakah untuk mempengaruhi, mendebat,
membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya. Seseorang berbicara atau
menulis mempunyai maksud tertentu, baik besar maupun kecil.
Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan
secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali atau diekspresikan
di luar kesadaran.
2. Konteks
Analisis wacana kritis mempetimbangkan konteks wacna,
seperti, latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana di sini dipandang,
diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Konteks
memasukkan semua situasi dan hal yang berda di luar teks dan mempengaruhi
pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi di mana teks
tersebut diprosuksi, fungsi yang dimaksudkan, dan sebagainya. Ada beberapa
konteks penting yang berpengaruh terhadap produksi wacana, yaitu.
Pertama, partisipan wacana, latar seseorang yang memproduksi
wacana, seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnis, agama.
Kedua, setting sosial tertentu, seprti tempat, waktu, posisi
pembicara dan pendengar atau lingkunagn fisik adalah konteks yang berguna untuk
mengerti suatu wacana.
3. Historis
Salah satu aspek penting untuk bisa mengerti teks adalah
dengan menempatkan wacana itu dalam konteks historis tertentu. Pada saat
melalukan analisis wacana perlu dilakukan tinjauan historis. Hal tersebut
bertujuan untuk mengerti mengapa suatu wacana yang berkembang atau dikembangkan
seperti itu, mengapa bahas yang dipakai seperti itu, dan sebagainya.
4. Kekuasaan
Analisis wacana kritis juga mempertimbangkan elemen
kekuasaan (power) dalam analisisnya. Di sini, setiap wacana yang muncul dalam
bentuk teks, percakapan, atau apa pun, tidak dipandang sebgai sesuatu yang
alamiah, wajar, dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan.
Konsep kekuasaan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dengan
masyarakat. Seperti kekuasaan kulit putih terhadap kulit hitam dalam wacana
rasisme, kekuaaan perusahaan berbentuk dominasi pengusaha kelas atas kepada
bawahan, dan sebagainya.
Kekuasaan dalam hubungannya dengan wacana penting untuk
melihat hal yang disebut control. Satu orang atau kelompok mengontrol orang
atau kelompok lain lewat wacana. Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam
bentuk fisik dan langsung, tetapi juga control secra mental atau psikis.
Kelompok yang dominan mungkin membuat kelompok lain bertindak seperti yang
diinginkan olehnya, berbicara dan bertindak sesuai yang diinginkan.
5.Ideologi
Ideologi juga konsep yang sentral dalam analisis wacana yang
bersifat kritis. Hal ini karena teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk
dari praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi tertentu. Wacana dalam
pendekatan semacam ini dipandang sebagai medium kelompok mana yang dominan
mempersuasi dan mengkomunikasikan kepada khalayak produksi kekuasaan dan
dominasi yang mereka miliki, sehingga tampak abash dan benar. Ideologi memiliki
beberapa implikasi penting, yaitu.
Pertama, ideologi secara inheren bersifat sosial, tidak
personal atau individual, ia membutuhkan share di antara anggota kelompok,
oorganisai atau kolektivitas dengan orang lainnya.
Kedua, ideologi meskipun bersifat sosial, penggunaannya
dilakukan secara internal di antara anggota kelompok atau komunitas. Oleh
karena itu, ideologi tidak hanya menyediakan fungsi koordinatif dan kohesi,
tetapi juga membentuk identitas diri kelompok, membedakan engan kelompok lain.
Dengan pandangan semacam ini, wacana lalu tidak dipahami
sebagai sesuatu yang netral dan berlangsung secara alamiah karena dalam setiap
wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh. Dalam
teks berita misalnya, dapat dianalisis apakah teks yang muncul tersebut
pencerminan dari ideologi seseorang, dan sebagainya.
C. Pendekatan Utama dalam Analisis Wacana Kritis
1. Analisis Bahasa Kritis (Critical Linguistics)
Critical Linguistics dibangun oleh sekelompok pengajar di
Universitas East Anglia pada 1970-an. Critical Linguistics memusatkan analisis
wacana pada bahasa danmenghubungkannya dengan ideologi. Inti dari gagasan Critical
Linguistics adalah melihat bagaimana gramatika bahasa membawa posisi dan makna
ideologi tertentu. Aspek ideologi itu diamati dengan melihat pilihan bahasa dan
struktur tata bahasa yang dipakai. Bahasa, baik kata maupun struktur gramatika
dipahami sebagai pilihan, mana yang dipilih seseorang untuk diungkapkan membawa
makna ideologi tertentu.
2. Analisis Wacana Pendekatan Prancis (French Discourse
Analysis)
Dalam pandangan Pecheux, bahasa dan ideologi bertemu pada
pemakaian bahasa, dan materialisasi bahasa pada ideologi. Keduanya, kata yang
digunakan dan makna dari kata-kata menunjukkan posisi seseorang dalam kelas
tertentu. Bahasa adalah medan pertarungan melalui berbagai kelompok dan kelas sosial yang berusaha menanamkan
keyakinan dan pemahamannya. Pecheux memusatkan
perhatian pada efek ideology pada formasi diskursus yang memposisikan seseorang
sebagi subjek dalam situasi sosial
tertentu.
3. Pendekatan Kognisi Sosial (Socio Cognitive Approach)
Pendekatan ini dikembangkan oleh pengajar di Universitas
Amsterdam, Belanda dengan tokoh utamanya Teun A. van Djik. Pendekatan van Djik
ini disebut kognisi sosial karena van Djik
melihat faktor kognisi sebgai elemen penting dalam produksi wacana. Wacana dilihat bukan hanya dari struktur
wacana, tetapi juga menyertakan bagaimana wacana itu diproduksi. Proses
produksi wacana itu menyertakan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial.
4. Pendekatan Perubahan Sosial (Sociocultural Change Approach)
Analisis wacana dari Fairclough ini utamanya memusatkan
perhatian pada bagaimana wacana dan perubahan sosial. Wacana di sisni dipandang
sebagai praktik sosial karena dengan memandang wacana sebagai praktik sosial,
ada hubungan dialektis antara praktik diskursif tersebut engan identitas dan
relasi sosial. Wacana juga melekat dalam situasi, institusi, dan kelas sosial
tertentu.
5. Pendekatan Wacana Sejarah (Discourse Historical Approaches)
Analisis wacana ini dikembangkan oleh sekelompok pengajar di
Vienna dengan tokoh utama Ruth Wodak. Wacana di sini disebut historis karena
menurut Wodak, dkk., analisis wacana harus menyertakan konteks sejarah
bagaimana wacana tentang suatu kelompok atau komunitas digambarkan. Misalnya,
penggambaran yang buruk atau rasis tentang suatu kelompok, menurutnya terbangun
lewat proses sejarah yang panjang. Penggambaran tersebut harus dibomgkar dengan
melakukan tinjauan sejarah karena prasangka atau penggambaran itu adalah
peninggalan atau warisan lama yang panjang.
Siswanto Adi Saputro
BalasHapusNIM A1B110233
Dalam pemaparan di atas, kelompok menyebutkan bahwa salah satu dari karakteristik AWK adalah kekuasaan. Pada karakteristik ini, kekuasaan dalam hubungannya dengan wacana penting untuk melihat hal yang disebut control. Satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain lewat wacana. Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam bentuk fisik dan langsung, tetapi juga control secara mental atau psikis.
Yang ingin saya tanyakan, apa yang dimaksud dengan control secara mental dan berikan contohnya?
Untuk Siswanto
HapusKontrol secara mental atau psikis maksudnya adalah mengontrol seseorang dari diri dalam orang tersebut. Lebih mudahnya bisa dikatakan mengontrol perasaan atau jalan pikir seseorang. Misalnya, Anda sedang melaksanakan ujian atau sidang skripsi, tentunya Anda akan diberi pertanyaan dan mungkin kritikan dari dosen penguji Anda. Nah, setiap pernyataan berupa kritikan itu adalah wacana dan salah satu kritikan tersebut ternyata membuat Anda yang semula secara mental siap dan percaya diri menjadi gugup. Sehingga, perasaan dan pikiran Anda terpaku dan dikuasai oleh kritikan (wacana) tersebut. Jadi, itulah menurut kelompok kami control secara mental atau psikis.
Terima kasih telah bertanya, semoga jawaban kami dapat diterima.
Rizka Arie Ani, A1B110230
BalasHapusSetelah saya membaca secara keseluruhan mengenai pembahasan kalian “Analisis Wacana Kritis”, tolong jelaskan lagi secara singkat mengenai karakteristik analisis wacana kritis dan berikan contoh masing-masing??
Kepada Rizka
HapusKarakteristik AWK ada lima, yaitu.
1. Tindakan, maksudnya wacana merupakan bentuk interaksi, memiliki tujuan, dan diekspresikan secara sadar. Contohnya: berupa pernyataan untuk mendebat, membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya.
2. Konteks, maksudnya wacana itu mempertimbangkan hal-hal disekelilingnya, seperti partisipan wacana (pembicara, pendengar) dan setting sosial tertentu. Contohnya: penggunaan bahasa informal dan nonformal. Tentunya Anda akan menggunakan wacana yang santai (informal) kepada teman, tetapi Anda akan menggunakan wacana yang formal kepada seseorang yang memiliki jabatan penting (seperti walikota, dekan, dan sebagainya).
3. Historis, maksudnya untuk memahami suatu wacana perlu memperhatikan latar belakang atau sejarah terciptanya atau terbentuknya suatu wacana. Contohnya: ketika Anda melakukan analisis wacan teks selebaran yang mahasiswa yang menentang Soeharto. Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh jika Anda bisa memberikan konteks historisnya (dimana teks itu diciptakan, bagaimana situasi sosial politik saat itu, mengapa bahasa yang dipakai seperti itu, dan sebagainya).
4. Kekuasaan, maksudnya suatu wacana bisa mengontrol seseorang atau kelompok, baik secara fisik maupun mental (psikis). Contohnya: kekuasaan atau control secara fisik bisa terjadi di suatu perusahaan antara atasan dengan bawahan. Seorang atasan meminta bawahannya pergi mensurvei suatu tempat, secara otomatis si bawahan akan pergi ke tempat tersebut. Di sinilah terjadi control fisik, seseorang yang memiliki kekuasaan (atasan) bisa mengontrol fisik orang lain (bawahan).
5. Ideologi, maksudnya dalam suatu wacana ada ideologi atau paham yang menyertai di dalamnya dan diyakini oleh penuturnya. Contohnya: “kebersihan adalah sebagian dari iman”, dalam wacana tersebut terdapat sebuah ideologi atau paham keagaamaan.
Terima kasih telah bertanya, semoga jawaban kami bisa diterima.
Assalamualaikum Wr. Wb.
BalasHapusSaya Laili Hidayati (A1B110202) dari kelompok 2,
Hari ini senin tanggal 14 April 2014 SMA (sederajat) melaksanakan Ujian Nasional (UN), tepat pada hari ini juga media massa online maupun elektronik ramai memberitakan tentang Gubernur DKI Joko Widodo muncul jadi salah satu materi soal dalam Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia. Sumber (http://news.detik.com/read/2014/04/14/163100/2554751/10/1/jokowi-muncul-di-soal-un-ini-reaksi-mendikbud) sejalan dengan pemberitaan tersebut, bagaimana kelompok menanggapi berita tersebut sesuai dengan point pembahasan kelompok B. Karakteristik Analisis Wacana Kritis (pada no.5, yakni Ideologi). Mohon jawaban dan penjelasannya, terimakasih.
Wa'alaikum salam wr. wb.
HapusKarakteristik AWK berupa ideologi dari wacana di atas, yaitu adanya muatan unsur politik praktis. Bila wacana ini ditinjau dari segi ideologi, bisa dikatakan dalam wacana ini adanya suatu pendekatan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mendominasi di balik adanya pembuatan soal ini yang merupakan pendukung dari Jokowi. Kita telah ketahui bahwa Jokowi mengajukan diri menjadi Capres di bawah naungan partai PDI Perjuangan pada pemilihan persiden selanjutnya. Seolah-olah mengkampanyekan dan mengkomunikasikan Jokowi kepada masyarakat sebagai seseorang yang memang cocok dan layak menjadi pimpinan. Intinya, ideologi dari wacana tersebut berkaitan dengan masalah politik.
Terima kasih telah bertanya, semoga jawaban kami bisa di terima.
Terima kasih kepada teman-teman yang telah bertanya dan semoga jawaban kami bisa bisa diterima dengan baik. Sekiranya kami cukupkan dulu saat ini untuk teman-teman bertanya di sini karena sesi tanya jawab via blog ini ditutup dulu. ^__^
BalasHapusbisa lampirkan contoh wacana kritis?
BalasHapus